GREEN SCIENCE AND GREEN TECHNOLOGIES


 GREEN SCIENCE 



Green science” adalah ilmu yang mempelajari tentang lingkungan hidup. Ilmu Lingkungan adalah suatu studi yang sistematis mengenai lingkungan hidup dan kedudukan manusia yang pantas di dalamnya. Perbedaan utama ilmu lingkungan dan ekologi adalah dengan adanya misi untuk mencari pengetahuan yang arif, tepat (valid), baru, dan menyeluruh tentang alam sekitar, dan dampak perlakuan manusia terhadap alam. Misi tersebut adalah untuk menimbulkan kesadaran, penghargaan, tanggung jawab, dan keberpihakan terhadap manusia dan lingkungan hidup secara menyeluruh.

Pemerintah Indonesia dalam UU Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997 memberikan pengertian Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

  GREEN TECHNOLOGY



Definisi tentang Green Technology yang diambil dari berbagai sumber :
“Teknologi hijau (Greentech) yang juga dikenal dengan teknologi lingkungan (envirotech) dan teknologi bersih (cleantech) adalah integrasi antara teknologi modern dan ilmu lingkungan untuk lebih melestarikan lingkungan global dan sumber daya alam serta untuk mengurangi dampak negatif dari aktifitas manusia di planet bumi”

“Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini. Kelestarian atau keberlanjutan (sustainabilitas) yang dapat diartikan sebagai perihal pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan dimasa depan tanpa merusak sumber daya alam, atau pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”

Dari beberapa pengertian dari Green Technology yang ada, dapat disimpulkan bahwa secara garis besar pengertian dari Greentech adalah integrasi antara teknologi modern dan ilmu lingkungan yang diaplikasikan untuk melestarikan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merubah lingkungan dan sumber daya alam.

Teknologi hijau bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan cara-cara untuk menyediakan kebutuhan bagi manusia tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan atau pengurangan sumber daya alam yang cepat di planet bumi.
      
 Konsep penerapan teknologi hijau secara umum memiliki beberapa tujuan utama  yang memilki prioritas untuk dapat diterapkan dalam kehidupan manusia, yaitu : 
 
  • Keberlangsungan – Upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara terus menerus di masa depan tanpa merusak atau menghabiskan sumber daya alam
  • Pendaur-ulangan sampah – Upaya untuk mengakhiri siklus barang sekali pakai, dengan menciptakan produk yang sepenuhnya dapat diperoleh kembali atau digunakan kembali
  • Pengurangan Sumber Sampah – Upaya untuk mengurangi sumber limbah dan polusi dengan mengubah pola produksi dan pola konsumsi.
  • Inovasi – Upaya untuk mengembangkan alternatif teknologi yang ramah lingkungan guna memenuhi kebutuhan manusia tanpa merusak lingkungan.
  • Viabilitas – upaya untuk menciptakan suatu pusat kegiatan ekonomi di seluruh bidang teknologi dan produk yang memberikan keuntungan bagi lingkungan dan menciptakan peluang usaha baru yang benar-benar melindungi planet bumi dari kerusakan.
  •  Edukasi – Upaya untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya penerapan teknologi hijau guna mendukung terciptanya daya dukung lingkungan yang berkelanjutan.


Prinsip utama pada Konsep Green Technology meliputi 3 hal yaitu :
    1.      Kenyamanan Sosial
    2.      Ekonomis
    3.      Ramah Lingkungan


Penerapan Green Technology, digolongkan menjadi beberapa tipe, antara lain:


     1.  Energi

Energi adalah satu dari banyak hal yang diperlukan dalam kebutuhan hidup manusia, penggunaan energi fosil yang tinggi, akan menimbulkan dampak pencemaran yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Sehingga diperlukan energi alternatif, yang lebih ramah lingkungan dan terbarukan.



Contoh Penerapan :
a.  Penggunaan tenaga air (Hydro power) sebagai sumber energi listrik
b.  Penggunaan tenaga surya (Solar cell power) sebagai sumber listrik
c. Pemanfaatan biomassa menjadi biofuel untuk bahan bakar (limbah tanaman jarak, tebu, ketela, jagung)
d. Pemanfaatan biogas dari limbah organik dan kotoran ternak  sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah/kayu bakar
e.  Pemanfaatan biogas sebagai pengerak generator gas untuk pembangkit listrik
 



2. Bangunan

Untuk strategi yang dapat diterapkan antara lain pemanfaatan material berkelanjutan, efisiensi lahan, keterkaitan dengan ekologi lokal, keterkaitan antara transit dan tempat tinggal, rekreasi dan bekerja, serta efisiensi penggunaan air, penanganan limbah, dan mengedepankan kondisi lokal baik secara fisik maupun secara sosial.

Contoh penerapan konsep design Green Building :
a.  Meminimalkan penggunaan lampu dengan memanfaatkan cahaya alami
b. Meminimalkan penggunaan mesin pendingin ruangan dan air dengan mengefektifkan design bangunan
c.  Pengelolaan limbah “closed cycle” untuk gedung tempat tinggal
d. Menyediakan ruang terbuka hijau untuk tiap bangunan/gedung yang dibangun
e.  Penggunaan material bangunan yang ramah lingkungan dan tahan lama




3. Chemistry
Green Chemistry lebih berfokus pada usaha untuk meminimalisir penghasilan zat-zat berbahaya dan memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia. Sedangkan, Environmental Chemistry lebih menekankan pada fenomena lingkungan yang telah tercemar oleh substansi-substansi kimia.
Contoh penerapan konsep Green Chemistry :
a.      Vitamin C (asam askorbat) untuk proses pembuatan polimer
b.      Gula dan minyak sayur sebagai bahan baku cat
c.       Gula pati dan selulosa sebagai bahan bakar
d.      Pemakaian enzim untuk pembuatan   bahan dasar kosmetik
e.      Kacang kedelai sebagai Bahan Pembuatan Toner printer
f.        Kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan lem perekat


4.  Nanotechnology
Green Nanotechnology merupakan pengembangan dari clean technology yang merupakan suatu upaya untuk meminimalisasi potensi resiko kerusakan lingkungan dan manusia yang terkait dengan pembuatan dan penggunaan produk nanoteknologi serta untuk mendorong penggantian produk yang ada dengan produk nano baru yang lebih ramah lingkungan.


Tujuan dari Green Nanotechnology ada dua yaitu :

       1).        Memproduksi Nanomaterials dan produk tanpa merugikan lingkungan atau kesehatan manusia, dan memproduksi nano-produk yang memberikan solusi terhadap masalah lingkungan hidup.
Contoh :
·         Membran nano dapat membantu produk terpisah reaksi kimia yang diinginkan dari bahan limbah.
·         Katalis Nanoscale bisa membuat reaksi kimia yang lebih efisien dan lebih boros.
       2).       Mengembangkan produk-produk yang menguntungkan lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Contoh :
·         Nanomaterials atau produk langsung dapat membersihkan situs limbah berbahaya, air desalinasi, polutan merawat dan memonitor polusi lingkungan
·         Nanocomposites ringan untuk mobil dan alat transportasi lainnya dapat menghemat bahan bakar dan mengurangi bahan yang digunakan untuk produksi.

 PENGERTIAN EKOLOGI



 Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup  dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya. Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai makanan manusia dan tingkat tropik. Hubungan keterkaitan dan ketergantungan antara seluruh komponen ekosistem harus dipertahankan dalam kondisi yang stabil dan seimbang (homeostatis). Perubahan terhadap salah satu komponen akan memengaruhi komponen lainnya.
Homeostatis adalah kecenderungan sistem biologi untuk menahan perubahan dan selalu berada dalam keseimbangan. Ekosistem mampu memelihara dan mengatur diri sendiri seperti halnya komponen penyusunnya yaitu organisme dan populasi. Dengan demikian, ekosistem dapat dianggap suatu cibernetik di alam. Namun manusia cenderung mengganggu sistem pengendalian alamiah ini. Ekosistem merupakan kumpulan dari bermacam-macam dari alam tersebut, contoh hewan, tumbuhan, lingkungan, dan yang terakhir manusia.
Masalah lingkungan adalah aspek negatif dari aktivitas manusia terhadap lingkungan biofisik.  Environmentalisme, sebuah gerakan sosial dan lingkungan yang dimulai di tahun 1960, fokus pada penempatan masalah lingkungan melalui advokasi, edukasi, dan aktivisme. Masalah lingkungan terbaru saat ini yang mendominasi mencakup perubahan iklim, polusi, dan hilangnya sumber daya alam.
Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1)     Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam.
Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.

Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

  •  Letusan gunung berapi
Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi.

Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara lain berupa:
1) Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan.
2) Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui.
3) Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui.
4) Gas yang mengandung racun.
5) Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.

  • Gempa bumi
Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapa intensitas gempa, namun manusia sama sekali tidak dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa. Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupun tidak langsung, di antaranya:

1) Berbagai bangunan roboh.
2) Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus.
3) Tanah longsor akibat guncangan.
4) Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul.
5) Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang).
  • Angin topan
Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah. Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasan California, Texas, sampai di kawasan Asia seperti Korea dan Taiwan,. Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkan keadaan atmosfer bumi, termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dan kecepatannya. Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dalam bentuk:
a)      Merobohkan bangunan.
b)      Rusaknya areal pertanian dan perkebunan
c)      Membahayakan penerbangan
d)     Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.

2)     Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia
Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

  • Penebangan hutan secara liar (penggundulan)
  •  Perburuan liar
  • Merusak hutan bakau.
  • Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman. 
  •  Pembuangan sampah di sembarang tempat.
  • Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS)
  • Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan 

 LIFE CYCLE ANALYSIS (LCA)


 
       Life Cycle  Analysis (atau dikenal sebagai penilaian siklus hidup) adalah cara untuk mengetahui dampak keseluruhan produk manusia tertentu terhadap lingkungan di dalam keseluruhan keberadaannya. Ini tidak sesederhana kedengarannya, karena ada banyak langkah dalam memproduksi bahkan produk paling sederhana sekalipun. Kita harus mengekstrak bahan baku seperti logam dan batu dari tanah, bahan kimia dari tumbuhan, kayu dari pohon, dan gelas dari pasir. Kemudian kita harus mengubah bahan-bahan itu menjadi produk secara langsung atau bagian-bagiannya untuk mengatasinya. Kemudian kita perlu menempatkan bagian-bagian itu bersama-sama untuk membuat produk akhir. 
    Tapi itu tidak berakhir di situ. Bahkan setelah produk dibuat, dibutuhkan sumber daya untuk mengangkutnya dari satu tempat ke tempat lain, menggunakannya, memperbaikinya saat rusak, dan menyingkirkannya saat tidak lagi bekerja sesuai kebutuhan. Semua hal ini berdampak pada lingkungan, dan semuanya menggunakan energi. Jadi, Life Cycle Analysis melibatkan banyak langkah yang berbeda untuk membuat dampak lingkungan keseluruhan produk. Tapi itu benar-benar cara yang masuk akal untuk mengetahui dampak produk terhadap dunia.
 

Tahap pertama analisis siklus hidup disebut "analisis persediaan". Dalam analisis persediaan, tujuannya adalah untuk memeriksa semua input dan output dalam siklus hidup produk, dimulai dari produk apa yang terdiri dari, dari mana bahan tersebut berasal. , ke mana mereka pergi, dan masukan dan keluaran yang terkait dengan komponen material tersebut selama masa pakainya. Hal ini juga diperlukan untuk memasukkan input dan output selama penggunaan produk, seperti apakah produk menggunakan listrik atau tidak. Tujuan analisis persediaan adalah untuk mengukur apa yang masuk dan apa yang terjadi, termasuk energi dan bahan yang terkait dengan ekstraksi bahan, pembuatan dan perakitan produk, distribusi, penggunaan dan pembuangan dan emisi lingkungan yang dihasilkan
Tahap selanjutnya dari analisis siklus hidup adalah analisis dampak, di mana dampak lingkungan yang diidentifikasi pada tahap sebelumnya dicacah, seperti dampak lingkungan dari menghasilkan energi untuk proses dan limbah berbahaya yang dipancarkan dalam proses pembuatannya. Begitu dampak lingkungan dari semua masukan dan keluaran dari siklus hidup produk dianalisis, analisis siklus hidup menghasilkan sejumlah yang mewakili seberapa besar lingkungan terpengaruh.

Mengapa melakukan LCA?

LCA mungkin dilakukan oleh sektor industri untuk memungkinkannya mengidentifikasi area dimana perbaikan dapat dilakukan, dalam hal lingkungan. Atau LCA mungkin inten-ded untuk menyediakan data lingkungan untuk publik atau pemerintah. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan besar telah mengutip LCA dalam pemasaran dan periklanan mereka, untuk mendukung klaim bahwa produk mereka 'ramah lingkungan' atau bahkan 'lebih unggul dari lingkungan' dibandingkan pesaing mereka. Banyak dari klaim ini telah berhasil ditantang oleh kelompok lingkungan.
Semua produk memiliki dampak pada lingkungan. Karena beberapa produk menggunakan lebih banyak sumber daya, menyebabkan lebih banyak polusi atau menghasilkan lebih banyak sampah daripada yang lain, tujuannya adalah untuk mengidentifikasi produk yang paling berbahaya.
Bahkan untuk produk yang beban lingkungannya relatif rendah, LCA harus membantu mengidentifikasi tahap-tahap dalam proses produksi dan penggunaannya yang menyebabkan atau berpotensi menimbulkan polusi, dan produk yang memiliki bahan atau permintaan energi yang tinggi.

Penilaian siklus hidup adalah analisis faktual dari keseluruhan siklus hidup suatu produk dalam hal keberlanjutan. Untuk menempuh LCA ada beberapa penilaian yang telah disediakan oleh International Organization for Standardization (ISO) di ISO 14040 dan 14044, dan menjelaskan empat fase utama dari LCA:
1.  tujuan dan ruang lingkup,
      2.   analisis persediaan
      3.    penilaian dampak
      4.   interpretasi.

1. Definisi Tujuan & Ruang Lingkup
Model LCA adalah siklus layanan produk, layanan, atau sistem. Yang penting untuk disadari adalah bahwa model adalah penyederhanaan realitas yang kompleks dan karena semua penyederhanaan ini berarti kenyataan akan terdistorsi dalam beberapa cara.
2. Analisis persediaan ekstraksi dan emisi
Dalam analisis persediaan , Anda melihat semua masukan dan keluaran lingkungan yang terkait dengan produk atau layanan, seperti penggunaan bahan baku dan energi, emisi polutan dan aliran limbah. Di sinilah Anda mendapatkan gambaran yang lengkap.
3. Penilaian dampak
Dalam penilaian dampak siklus hidup (LCIA), Anda menarik kesimpulan yang memungkinkan Anda membuat keputusan bisnis yang lebih baik
4. Interpretasi
Selama tahap interpretasi , Anda memeriksa kesimpulan Anda terbukti dengan baik . Standar ISO 14044 menjelaskan sejumlah pemeriksaan untuk menguji apakah kesimpulan cukup didukung oleh data dan prosedur yang digunakan

 PRINCIPLE GREEN SCIENCE AND GREEN TECHNOLOGY


12 Prinsip dasar kimia ramah lingkungan (Green Chemistry):

1. Mencegah Limbah Kimia
Lebih baik mencegah pembentukan limbah buangan sedikit mungkin daripada melakukan proses pembersihan dari produk2 buangan.

2. Memaksimalkan Atom Ekonomi
Mendesain sintesa agar produk akhir mengandung proporsi maksimum dari materi awal yang digunakan. Kalau ada atom yang terbuang, sebaiknya hanya sedikit.

3. Desain Sintesis Kimia yang Tidak Berbahaya
Mendesain sintesa untuk digunakan dan menghasilkan zat kimia yang tidak atau hanya sedikit menjadi racun bagi manusia dan lingkungannya atau mengurangi bahaya bahan kimia.

4. Desain Produk Kimia yang Aman
Produk kimia seharusnya didesain untuk mempengaruhi fungsi yang diinginkan dengan meminimalkan toksisitas (sifat beracun) mereka.

5. Gunakan Pelarut yang Aman
Semaksimal mungkin diupayakan untuk tidak menggunaan zat tambahan (misalnya, pelarut, agen pemisah, dll). Penggunakan pelarut biasanya mengarah ke produksi limbah. Oleh karena itu penurunan volume pelarut atau bahkan penghapusan total pelarut akan lebih baik. Dalam kasus di mana pelarut diperlukan, hendaknya perlu diperhatikan penggunaan pelarut yang cukup aman.

6. Meningkatkan Efisiensi Energi
Penggunaan energi yang minimal. Proses synthesis diusahakan tidak pada kondisi extreme (ambient temperature & pressure).

7. Gunakan Bahan Baku Terbarukan
Bila memungkinkan, transformasi kimia harus dirancang untuk memanfaatkan bahan baku yang terbarukan. Contoh bahan baku terbarukan termasuk produk pertanian atau limbah dari proses lainnya. Contoh bahan baku depleting termasuk bahan baku yang ditambang atau dihasilkan dari bahan bakar fosil (minyak bumi, gas alam atau batubara).

8. Hindari Penggunaan Kimia Derivatif
Derivatisasi yang tidak perlu (penggunaan kelompok „blocking“, proteksi / deproteksi, modifikasi sementara proses fisika / proses kimia) harus dikurangi atau dihindari jika mungkin, karena langkah-langkah seperti ini membutuhkan reagen tambahan dan dapat menghasilkan limbah. Transformasi Sintetik yang lebih selektif akan menghilangkan atau mengurangi kebutuhan untuk proteksi gugus fungsi. Selain itu, urutan sintetis alternatif dapat menghilangkan kebutuhan untuk mengubah gugus fungsi dengan ada gugus fungis lain yang lebih sensitif.

9. Gunakan Katalis
Jika proses katalitis, pilihlah katalisator yang effisien/efektive, mudah digunakan kembali (reconditioning) dan sesuai dengan porsi stoichiometri-nya.

10. Desain Produk yang Terdegradasi
Mendesain produk kimiawi yang terurai ke dalam zat yang tidak berbahaya setelah digunakan supaya tidak terakumulasi dalam lingkungan.

11. Analisis Real-Time untuk Mencegah Polusi
Melakukan pemantauan dan pengontrolan waktu sesunggunya selama sintesis berlangsung untuk meminimalkan atau menghilangkan pembentukan limbah.

12. Minimalkan Potensi Kecelakaan
Mendesain zat kimia dan bentuknya untuk meminimalkan potensi terjadinya kecelakaan kimiawi termasuk ledakan, kebakaran, dan pelepasan ke dalam lingkungan.


  BIOGEOCHEMICAL CYCLE


Siklus biogeokimia , salah satu jalur alami dimana unsur - unsur penting materi kehidupan beredar. Istilah biogeokimia adalah kontraksi yang mengacu pada pertimbangan aspek biologis, geologi, dan kimia setiap siklus.


Unsur-unsur dalam siklus biogeokimia mengalir dalam berbagai bentuk dari komponen biosensia yang tidak hidup (abiotik) ke komponen dan punggung yang hidup (biotik). Agar komponen hidup dari ekosistem utama (misalnya, danau atau hutan ) bertahan, semua unsur kimia yang membentuk sel hidup harus didaur ulang secara terus menerus.


Siklus biogeokimia dapat digolongkan sebagai gas, dimana waduk adalah udara atau lautan (melalui penguapan ), dan sedimen, dimana reservoir adalah kerak bumi . Siklus gas meliputi nitrogen , oksigen , karbon , dan air ; Siklus sedimen meliputi zat besi , kalsium , fosfor , belerang , dan unsur-unsur yang lebih banyak digiling.
Siklus gas cenderung bergerak lebih cepat daripada yang sedimen dan menyesuaikan diri lebih mudah dengan perubahan di biosfer karena reservoir atmosfer yang besar. Akumulasi karbon dioksida (CO 2 ) lokal, misalnya, segera hilang oleh angin atau diambil oleh tanaman . Gangguan luar biasa (seperti pemanasan global ) dan gangguan lokal yang lebih sering terjadi (seperti kebakaran hutan dan kejadian badai ), dapat mempengaruhi kapasitas penyesuaian diri secara serius.
 



Siklus sedimen bervariasi dari satu unsur ke elemen lainnya, namun masing-masing siklus pada dasarnya terdiri dari fase solusi (atau terkait air) dan fase batuan (atau sedimen). Pada fase larutan, pelapukan melepaskan mineral dari kerak bumi dalam bentuk garam , beberapa di antaranya larut dalam air, melewati serangkaian organisme, dan akhirnya mencapai laut dalam, di mana mereka melepaskan sirkulasi tanpa batas waktu. Pada fase batuan, deposit garam lainnya keluar sebagai sedimen dan batuan di laut dangkal, akhirnya akan lapuk dan didaur ulang.



Tanaman dan beberapa hewan mendapatkan kebutuhan nutrisi mereka dari solusi di lingkungan . Hewan lain memperoleh sebagian besar kebutuhan mereka dari tanaman dan hewan yang mereka konsumsi. Setelah kematian organisme, unsur-unsur yang diperbaiki di tubuhnya dikembalikan ke lingkungan melalui tindakan dekomposer (organisme peluruhan seperti bakteri , serangga , dan jamur ) dan tersedia untuk organisme hidup lainnya lagi.

 BIOGEOCHEMICAL CYCLE :




Daftar pustaka
https://www.gdrc.org/uem/lca/life-cycle.html&prev=search
https://www.britannica.com/science/biogeochemical-cycle&prev=search

 

Comments

Popular posts from this blog

STRATEGI PENGURANGAN DAMPAK LINGKUNGAN ( LIMBAH PADAT , CAIR , GAS )

PENCEMARAN AIR : ( Penyebab, Dampak, Penanganan )

ENVIRONMENT MANAGEMENT SYSTEM ( EMS ) { ISO 14000,14001,14010,14020-14024,14041-14044 }