STRATEGI PENGURANGAN DAMPAK LINGKUNGAN ( LIMBAH PADAT , CAIR , GAS )
Limbah merupakan buangan atau sisa dari suatu usaha atau kegiatan manusia dan tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah Industri merupakan buangan hasil proses industri. Limbah industri diklasfikasikan menjadi 3 yaitu :
-
Industri Primer :
Industri yang
mengubah bahan mentah menjadi setengah jadi, misalnya: pertanian, pertambangan
-
Industri Sekunder
: Industri yang memproses barang setengah jadi menjadi barang
jad
- Industri Tersier
: Industri yang
sebgian besat meliputi industri jasa dan perdagangan atau industri yang mengolah bahan industri sekunder.
Limbah yang mengandung
bahan polutan yang memiliki sifat racun dan berbahaya dikenal dengan limbah B3.
Bahan bahan berbahaya dalam limbah berasal dari industri kimia organik maupun
anorganik, proses kimia fisika biologi dalam sistem pabrik, serta B3 seperti
yang sudah disebutkan sebelumnya.
Bagan sistimatika identifikasi pencemar pada pabrik.
Bagan sistimatika identifikasi pencemar pada pabrik.
Sifat beracun dan berbahaya limbah ditunjukkan oleh
sifat fisik dan sifat kimia bahan, baik segi kuantitas maupun kualitasnya. Kualitas
limbah menunjukkan spesifikasi limbah yang diukur dari kandungan pencemarnya.
Limbah yang dihasilkan dari proses kegiatan manusia berbeda satu dengan yang
lain, masing-masing memiliki karakteristik tersendiri pula. Karakteristik ini
diketahui berdasarkan parameternya.
Apabila limbah masuk ke dalam lingkungan, ada beberapa
kemungkinan yang ditimbulkan. Kemungkinan pertama, lingkungan tidak mendapat
pengaruh yang berarti; kedua, ada pengaruh perubahan tapi tidak menyebabkan
pencemaran; ketiga, memberi perubahan dan menimbulkan pencemaran. Faktor yang
mempengaruhi kualitas limbah antara lain :
1. Volume limbah, banyak sedikitnya limbah memengaruhi kualitas limbah. Jika limbah di lingkungan terdapat dalam jumlah banyak, limbah tersebut berbahaya. Akan tetapi, jika jumlahnya sedikit maka limbah tidak akan membahayakan.
2.
Kandungan bahan pencemar, kualitas limbah dipengaruhi oleh
kandungan bahan pencemar. Limbah dikategorikan berbahaya jika mengandung
pencemar berbahaya contoh logam berat. Jika limbah tidak mengandung bahan
pencemar berbahaya, berarti limbah tersebut tidak membahayakan.
3.
Frekuensi pembuangan limbah, pembuangan limbah dengan frekuensi
yang tinggi akan menimbulkan masalah. Jika pembuanganlimbah dilakukan dengan
frekuensi yang rendah maka limbah tidak akan membahayakan.
Kriteria Limbah B3
Kata B3 merupakan akronim dari bahan beracun dan berbahaya. Oleh karena itu, pengertian limbah B3 dapat diartikan sebagai suatu buangan atau limbah yang sifat dan konsentrasinya mengandung zat yang beracun dan berbahaya sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, dan mengancam kelangsungan hidup manusia serta organisme lainya.Fungsi Nilai Ambang Batas
Limbah B3 bukan hanya dapat dihasilkan dari kegiatan industri. Kegiatan rumah tangga juga menghasilkan beberapa limbah jenis ini. Beberapa contoh limbah B3 yang dihasilkan rumah tangga domestik) di antaranya bekas pengharum ruangan, pemutih pakaian, deterjen pakaian, pembersih kamar mandi, pembesih kaca/jendela, pembersih lantai, pengkilat kayu, pembersih oven, pembasmi serangga, lem perekat, hair spray, dan batu baterai.
Jenis Limbah B3
Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :- Limbah B3 dari sumber tidak spesifik. Limbah ini tidak berasal dari proses utama, melainkan dari kegiatan pemeliharaan alat, inhibitor korosi, pelarutan kerak, pencucian, pengemasan dan lain-lain.
- Limbah B3 dari sumber spesifik. Limbah ini berasal dari proses suatu industri (kegiatan utama).
- Limbah B3 dari sumber lain. Limbah ini berasal dari sumber yang tidak diduga, misalnya prodak kedaluwarsa, sisa kemasan, tumpahan, dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.
Sifat dan Klasifikasi Limbah B3
Suatu limbah tergolong sebagai bahan berbahaya dan beracun jika ia memiliki sifat-sifat tertentu, di antaranya mudah meledak, mudah teroksidasi, mudah menyala, mengandung racun, bersifat korosifmenyebabkan iritasi, atau menimbulkan gejala-gejala kesehatan seperti karsinogenik, mutagenik, dan lain sebagainya.
a. Mudah meledak (explosive)
Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar dapat meledak karena dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi lewat reaksi fisika atau kimia sederhana. Limbah ini sangat berbahaya baik saat penanganannya, pengangkutan, hingga pembuangannya karena bisa menyebabkan ledakan besar tanpa diduga-duga. Adapun contoh limbah B3 dengan sifat mudah meledak misalnya limbah bahan eksplosif dan limbah laboratorium seperti asam prikat.
b. Pengoksidasi (oxidizing)
Limbah pengoksidasi adalah limbah yang dapat melepaskan panas karena teroksidasi sehingga menimbulkan api saat bereaksi dengan bahan lainnya. Limbah ini jika tidak ditangani dengan serius dapat menyebabkan kebakaran besar pada ekosistem. Contoh limbah b3 dengan sifat pengoksidasi misalnya kaporit.
c. Mudah menyala (flammable)
Limbah yang memiliki sifat mudah sekali menyala adalah limbah yang dapat terbakar karena kontak dengan udara, nyala api, air, atau bahan lainnya meski dalam suhu dan tekanan standar. Contoh limbah B3 yang mudah menyala misalnya pelarut benzena, pelarut toluena atau pelarut aseton yang berasal dari industri cat, tinta, pembersihan logam, dan laboratorium kimia.
e. Beracun (moderately toxic)
Limbah beracun adalah limbah yang memiliki atau mengandung zat yang bersifat racun bagi manusia atau hewan, sehingga menyebabkan keracunan, sakit, atau kematian baik melalui kontak pernafasan, kulit, maupun mulut. Contoh limbah b3 ini adalah limbah pertanian seperti buangan pestisida.
f. Berbahaya (harmful)
Limbah berbahaya adalah limbah yang baik dalam fase padat, cair maupun gas yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu melalui kontak intalasi ataupun oral.
g. Korosif (corrosive)
Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang memiliki ciri dapat menyebabkan iritasi pada kulit, menyebabkan pengkaratan pada baja, mempunyai pH ≥ 2 (bila bersifat asam) dan pH ≥ 12,5 (bila bersifat basa). Contoh limbah B3 dengan ciri korosif misalnya, sisa asam sulfat yang digunakan dalam industri baja, limbah asam dari baterai dan accu, serta limbah pembersih sodium hidroksida pada industri logam.
h. Bersifat iritasi (irritant)
Limbah yang dapat menyebabkan iritasi adalah limbah yang menimbulkan sensitasi pada kulit, peradangan, maupun menyebabkan iritasi pernapasan, pusing, dan mengantuk bila terhirup. Contoh limbah ini adalah asam formiat yang dihasilkan dari industri karet.
i. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)
Limbah dengan karakteristik ini adalah limbah yang dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan ekosistem, misalnya limbah CFC atau Chlorofluorocarbon yang dihasilkan dari mesin pendingin
j. Karsinogenik (carcinogenic), Teratogenik (teratogenic), Mutagenik (mutagenic)
Limbah karsinogenik adalah limbah yang dapat menyebabkan timbulnya sel kanker, teratogenik adalah limbah yang mempengaruhi pembentukan embrio, sedangkan limbah mutagenik adalah limbah yang dapat menyebabkan perubahan kromosom.
Nilai Ambang Batas adalah batas maksimum perasaan aman manusia berada ditempat kerjanya, meskipun banyak hal terjadi. Nilai ambang batas juga dapat diidentikkan dengan kadar maksimum yang diperkenankan
1. NAB rata-rata selama jam kerja, yaitu kadar bahan-bahan kimia rata-rata di lingkungan kerja selama 8 jam per hari atau 40 per minggu dimana hamper semua tenaga kerjadapat terpajan berulang-ulang, sehari-hari dalam melakukan pekerjaannya, tanpa mengakibatkan gangguan kesehatan maupun penyakit akibat kerja. Dalam Daftar Nilai Ambang Batas disingkat NAB
2. NAB batas pemaparan singkat, yaitu kadar tertentu bahan-bahan kimia di udara lingkungan kerja dimana hampir semua tenaga kerja dapat terpajan secara terus menerus dalam waktu yang singkat, yaitu tidak lebih dari 15 menit dan tidak lebih dari 4 kali pemajanan per hari kerja, tanpa menderita atau mengalami gangguan iritasi,kerusakan, atau perubahan jaringan yang kronis secara efek narcosis. Dalam daftar disingkat dengan PSD atau Pemajanan Singkat yang Diperkenankan.
3. NAB tertinggi, yaitu kadar tertinggi bahan-bahan kima di udara lingkungan kerja setiap saat yang tidak boleh dilewati selama melakukan pekerjaan. Dalam daftar disingkat dengan KTD atau Kadar Tertinggi yang Diperkenankan.
KEGUNAAN/FUNGSI NILAI AMBANG BATAS:
1. Sebagai kadar standar untuk pertandingan
2. Sebagai pedoman untuk perencanaan proses produksi dan perencanaan teknologi pengendalian bahaya-bahaya di lingkungan kerja.
3. Menentukan subtitusi bahan proses produksi terhadap bahan yang lebih beracun dengan bahan yang kurang beracun.
4. Membantu menentukan diagnosis gangguan kesehatan, timbulnya penyakit dan hambatan-hambatan efisiensi kerja akibat factor kimiawi dengan bantuan pemeriksaan biologic.
2.
Klasifikasi Limbah Industri
Limbah Industri diklasifikasikan berdasarkan nilai ekonomis dan
karakteristik. Berdasarkan nilai ekonomisnya limbah pabrik dibagi menjadi 2
kelompok yaitu Ekonomis dan Non Ekonomis. Berdasarkan
karakteristiknya limbah pabrik dibagi menjadi 3 kelompok yaitu Limbah Cair, Limbah Gas, dan Limbah Padat.
- Limbah Cair
Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak
menggunakan air dalam sistem prosesnya seperti air ikutan dalam proses
pengolahan kemudian dibuang, air yang digunakan saat mencuci bahan baku, air yang
ditambahkan zat kimia tertentu dan setelah itu dibuang, atau air yang digunakan
untuk mendinginkan mesin dan selanjutnya dibuang.
Jenis industri menghasilkan limbah cair di antaranya
adalah industri-industri pulp dan rayon, pengolahan crumb rubber, minyak kelapa
sawit, baja dan besi, minyak goreng, kertas, tekstil, kaustiksoda,
elektroplating, plywood, tepung tapioka, pengalengan, pencelupan dan pewarnaan,
daging dan lain-lain.
- Limbah Gas
Pengertian limbah gas dapat didefinisikan sebagai bahan sisa
berbentuk gas yang dihasilkan dari proses pembakaran atau pembusukan
suatu bahan. Limbah ini dapat diidentifikasi dari adanya warna udara,
bau, atau rasa. Kendati begitu, beberapa gas berbahaya justru tidak
menunjukan ciri spesifik, sehingga akan sangat berbahaya bila sampai
terhirup masuk ke dalam paru-paru. Nah, berikut ini adalah beberapa
contoh limbah gas yang umum terdapat di sekitar lingkungan kita beserta
karakteristik dan resiko bahaya yang dapat ditimbulkannya.
1. Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida adalah contoh limbah gas yang dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna. Bila kita memanaskan mesin kendaraan di dalam ruangan tertutup, maka mobil akan mengeluarkan gas ini dari knalpotnya. Karbon monoksida sendiri adalah gas yang tidak berasa, berbau, dan bahkan tidak berwarna. Kendati begitu, jika kita sampai menghirupnya resiko keracunan bahkan kematian bisa menjadi sangat tinggi.2. Karbon Dioksida (CO2)
Karbon dioksida adalah contoh limbah gas yang umumnya dihasilkan dari proses pembakaran senyawa karbon. Setiap hari kita menghasilkan gas ini melalui proses pernafasan. Gas karbon dioksida dibutuhkan untuk pertumbuhan beberapa organisme, termasuk tumbuhan, fungi, dan lain sebagainya. Kendati begitu, keberadaan gas ini diudara haruslah berada dalam jumlah seimbang. Bila lebih dari 5000 ppm akan menyebabkan masalah kesehatan pada manusia, sedangkan bila konsentrasi lebih dari 50.000 ppm dapat membahayakan kehidupan hewan. Cerobong asap pada pabrik-pabrik pengolahan dibuat tinggi menjulang supaya karbon dioksida terlepas pada udara di ketinggian yang jauhg dari jangkauan manusia bernapas.3. Sulfur Dioksida (SO2)
Sulfur dioksida adalah contoh limbah gas yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan yang mengandung sulfur. Pembangkit listrik tenaga uap (batu bara) akan menghasilkan gas ini dalam jumlah banyak. Keberadaan gas sulfur dioksida dalam jumlah berlebih dapat membahayakan kesehatan pernapasan pada hewan dan manusia, selain itu, karena bersifat asam gas ini juga dapat menyebabkan terjadinya korosi terutama iritasi pada kulit.4. Gas Amonia (NH3)
Gas amoniak adalah contoh limbah gas yang memiliki aroma yang sangat kuat. Gas ini umumnya dihasilkan dari proses penguraian protein yang dilakukan mikroorganisme. Bau busuk dari bangkai, makanan sisa, dan sampah-sampah di sekitar kita adalah disebabkan karena adanya gas amoniak ini. Keberadaannya sendiri sangat mengganggu kenyamanan, sehingga perlu ditangani secara serius.5. Gas Metan (CH4)
Gas metan adalah gas yang dihasilkan dari proses pembusukan anaerobik beragam bahan organik. Ia dapat terbentuk secara alami akibat gundukan sampah, di daerah rawa, selokan, atau septictank. Selain itu, sektor industri seperti penambangan batu bara, minyak bumi, dan gas alam juga menyumbang terelapasnya contoh limbah gas ini ke udara. Keberadaan gas metan sendiri pada konsentrasi tertentu dapat mengakibatkan masalah serius bagi kehidupan manusia, misalnya menimbulkan mual muntah, keracunan, gagal jantung, hingga kematian. Selain itu, sifatnya yang mudah terbakar dapat menyebabkan terjadinya kebakaran besar dan ledakan yang membahayakan.- Limbah Padat
Limbah padat adalah suatu bahan sisa
berupa fase padat yang dihasilkan dari proses produksi maupun konsumsi.
Sama seperti jenis limbah lainnya, limbah padat juga dapat menimbulkan
dampak serius bila tidak ditangani secara serius, misalnya terjadinya
kerusakan permukaan tanah, badan air, penurunan kualitas udara, banjir,
atau timbulnya bau busuk akibat dekomposisi limbah padat organik.
Berikut ini telah kami rangkum beberapa contoh limbah padat beserta teknik penanganannya yang efektif.
utamanya. Selain itu, plastik juga sangat sulit untuk terdekomposisi karena termasuk jenis limbah anorganik. Salah satu teknik dalam penanganan limbah plastik adalah dengan daur ulang (recycle) dan penggunaan kembali (reuse) dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku kerajinan.
Limbah karet adalah masalah serius. Industri otomotif dan dunia
kesehatan adalah penyumbang terbesar limbah ini bagi menurunnya kualitas
lingkungan hidup. Penanganan limbah karet, misalnya ban bekas atau dari
alat kesehatan kerap tidak mendapatkan perhatian serius. Biasanya
mereka hanya ditumpuk atau dibakar. Kedua teknik penanganan ini justru
semakin memperbesar kerusakan bumi. bila ditumpuk ia akan mencemari
permukaan tanah, dan bila dibakar akan merusak kualitas udara.
Berikut ini telah kami rangkum beberapa contoh limbah padat beserta teknik penanganannya yang efektif.
1. Limbah Plastik
Limbah plastik adalah salah satu contoh limbah padat yang menjadi masalah serius bagi lingkungan. Penggunaan plastik yang tinggi adalah penyebabutamanya. Selain itu, plastik juga sangat sulit untuk terdekomposisi karena termasuk jenis limbah anorganik. Salah satu teknik dalam penanganan limbah plastik adalah dengan daur ulang (recycle) dan penggunaan kembali (reuse) dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku kerajinan.
2. Limbah Kertas
Kendati dampaknya tidak seserius limbah plastik, limbah kertas juga
perlu diwaspadai sebagai salah satu bahan pencemar lingkungan. Terlebih
kertas
bekas yang mengandung banyak timbal dari tinta yang telah digunakan untuk menggoresnya. Limbah kertas dapat didaur ulang dengan mudah menjadi kertas baru, selain itu, ia juga dapat digunakan kembali sebagai bahan baku kerajinan.
bekas yang mengandung banyak timbal dari tinta yang telah digunakan untuk menggoresnya. Limbah kertas dapat didaur ulang dengan mudah menjadi kertas baru, selain itu, ia juga dapat digunakan kembali sebagai bahan baku kerajinan.
3. Limbah Karet
Limbah karet adalah masalah serius. Industri otomotif dan dunia
kesehatan adalah penyumbang terbesar limbah ini bagi menurunnya kualitas
lingkungan hidup. Penanganan limbah karet, misalnya ban bekas atau dari
alat kesehatan kerap tidak mendapatkan perhatian serius. Biasanya
mereka hanya ditumpuk atau dibakar. Kedua teknik penanganan ini justru
semakin memperbesar kerusakan bumi. bila ditumpuk ia akan mencemari
permukaan tanah, dan bila dibakar akan merusak kualitas udara.4. Limbah Logam
Logam seperti besi, baja, seng, almunium yang telah habis konsumsi juga merupakan contoh limbah padat. kendati begitu, keberadaan limbah ini umumnya tidak menimbulkan masalah serius karena mereka dapat didaur ulang kembali menjadi produk baru yang siap digunakan.5. Limbah Pertanian
Proses produksi pertanian telah meningalkan banyak limbah yang perlu mendapat perhatian serius. Pupuk dan pestisida yang terbawa ke badan air misalnya dapat membuat masalah baru pada kehidupan organisme sungai. adanya kelebihan unsur Nitrogen di badan air karena akumulasi pemupukan urea telah menyebabkan terjadinya nitrifikasi dan tumbuhnya alga dan eceng gondok secara membeludak. Sementara akumulasi pestisida telah meracuni kehidupan biota laut dan menjadikan ketidakseimbangan rantai makanan karena salah satu unsur dalam rantai tersebut mengalami kelangkaan.3. Pengolahan Limbah Industri
Tujuan pengolahan limbah adalah mengambil bahan bahan berbahya didalamnya dan atau mengurangi/ menghilangkan senyawa senyawa kimia maupun non kimia yang berbahaya dan beracun. Jika limbah industry berpotensi mengandung pencemar, maka perlu dlakukan:
Ø Identifikasi sumber pencemar.
Ø Fungsi dan jenis bahan.
Ø Sistem pengolahan.
Ø Kuantitas dan jenis buangan.
Ø Fungsi B3 dalam proses.
Ø Program pengendalian dan penanggulangan
pencemar agar tidak mengganggu lingkungan.
Menurut
sifatnya pengolahan limbah padat dibagi menjadi 2 cara, yaitu: Limbah padat
tanpa pengolahan dan limbah padat dengan pengolahan
· Limbah padat tanpa pengolahan:
Limbah padat
yang tidak mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya, bisa langsung
dibuang ke tempat tertentu seperti TPA.
· Limbah padat dengan pengolahan:
Limbah padat
yang mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya, harus diolah dahulu
sebelum dibuang ke tempat tertentu.
Faktor-Faktor Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengolah
Limbah Padat
1. Jumlah limbah
·
sedikit:
mudah ditangani sendiri
·
banyak:
membutuhkan penanganan khusus (tempat dan sarana pembuangan)
2. Sifat
fisik dan kimia limbah
·
Sifat fisik:
mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana pengangkutan dan pilihan
pengolahan.
·
Sifat kimia
dari limbah padat akan merusak dan mencemari lingkungan dengan cara
membentuk senyawa baru.
3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan
Karena lingkungan ada yang peka/tidak peka terhadap pencemaran, maka perlu
diperhatikan:
Karena lingkungan ada yang peka/tidak peka terhadap pencemaran, maka perlu
diperhatikan:
·
Tempat
pembuangan akhir (TPA)
·
Unsur yang
akan terkena
·
Tingakat
pencemaran yang akan timbul
1. Tujuan akhir dari pengolahan
Tujuan
pengelolaan yang bersifat ekonomis: Meningkatkan efisiensi pabrik secara
menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih berguna untuk didaur
ulang/dimanfaatkan lain. Tujuan pengelolaan yang bersifat non-ekonomis: Untuk
mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Proses
Pengolahan Limbah Padat
·
Pemisahan
·
Penyusutan
ukuran
·
Pengomposan
·
Pembuangan
limbah
1.
Pemisahan
Karena
limbah padat terdiri dari: ukuran yang berbeda dan kandungan bahan yang berbeda
maka harus dipisahkan dahulu, supaya peralatan pengolahan menjadi awet. Pemisahan
ada 3 sistem, yaitu:
·
Sistem
balistik: adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman ukuran/berat
volume
·
Sistem
gravitasi: adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat. Misal : barang yang
ringan/terapung dan barang yang berat/tenggelam
·
Sistem
magnetis: adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet, yang bersifat
magnet akan langsung menempel. Misal: untuk memisahkan campuran logam dan non
logam
2. Penyusutan Ukuran
Penyusutan
ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil, supaya pengolahannya
menjadi mudah.
3. Pengomposan
Pengomposan
dilakukan terhadap buangan/ limbah yang mudah membusuk, sampah kota buangan
atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik. Supaya hasil pengomposan
baik, limbah padat harus dipisahkan dan disamakan ukurannya/volumenya.
4. Pembuangan limbah
a.
Pembuangan di laut
Pembuangan
limbah padat di laut tidak boleh dilakukan di sembarang tempat dan perlu
diingat bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke laut. Hal ini
disebabkan:
·
Laut sebagai
tempat mencari ikan bagi nelayan
·
Laut sebagai
tempat rekreasi dan lalu-lintas kapal
·
Laut menjadi
dangkal
·
Limbah padat
yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya (misal: limbah B3 /limbah
radioaktif), dapat membunuh biota laut
b.
Pembuangan di darat/di tanah
Untuk pembuangan
di darat, perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus dipertimbangkan sebagai
berikut:
·
Pengaruh
iklim, temperatur dan angin
·
Struktur
tanah
·
Jaraknya
harus jauh dengan pemukiman
·
Pengaruh
terhadap sumber air, perkebunan, perikanan peternakan, flora atau fauna.
Jadi: Pilih
lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk kepentingan apapun
Pembuangan
di darat/tanah dibagi:
·
Penebaran di
atas tanah
·
Penimbunan/penumpukan
·
Pengisian
tanah yang cekung (landfill)
2. Mekanisme
Pengolahan Limbah Cair
Teknologi
pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan.
Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang
dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi
teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi
masyarakat yang bersangkutan.
Berbagai
teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba
dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah
dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:
Pengolahan secara fisika, Pengolahan secara kimia, Pengolahan secara biologi.
Pengolahan
Secara Fisika
Pada
umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan
agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau
bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening)
merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang
berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara
mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses
pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis
di dalam bak pengendap.
Proses
flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti
minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi
juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi
(clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan
memberikan aliran udara ke atas (air flotation).
Proses
filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului
proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan
sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu
proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa.
Proses
adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa
aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika
diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut.
Teknologi
membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan
kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang
diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.
Pengolahan
Secara Kimia
Pengolahan
air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat,
senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia
tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya
berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat
diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau
tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi
oksidasi.
Pengendapan
bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit
yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi
netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan.
Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan
alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam
tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam tersebut akan lebih stabil
jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus untuk
krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih
dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4,
SO2, atau Na2S2O5).
Penyisihan
bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah
dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl), 2kalsium permanganat,
aerasi, ozon hidrogen peroksida.
Pengolahan
secara biologi
Semua air
buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan
sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling
murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode
pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.
Pada
dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis,
yaitu:
1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi
(suspended growth reaktor);
2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached
growth reaktor).
Di dalam
reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam
keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam
reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai
modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai
beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan
80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih
tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu
detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat
pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak
sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan
pendahuluan.
Kolam
oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk dalam
jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia,
waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam
lagoon yang tidak diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat
memenuhi standar yang ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan
waktu detensi 3-5 hari saja.
Di dalam
reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan
membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi telah
banyak dikembangkan selama ini, antara lain:
1. trickling filter
2. cakram biologi
3. filter terendam
4. reaktor fludisasi
Seluruh
modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%.
Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara
biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:
2. Proses anaerob, yang berlangsung
tanpa adanya oksigen.
Apabila BOD
air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap lebih
ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses anaerob
menjadi lebih ekonomis.
Dalam
prakteknya saat ini, teknologi pengolahan limbah cair mungkin tidak lagi
sesederhana seperti dalam uraian di atas. Namun pada prinsipnya, semua limbah
yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke
lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi, dimana uraian di
atas dapat dijadikan sebagai acuan.
Menggunakan
metode Ppnyederhaan gas buang dengan metode absorbs,pembakaran, penyerapan ion,
kolam netralisasi dan pembersihan partikel. Faktor yang berpengaruh dalam
pengolahan limbah gas, antara lain :
´
Komposisi
´
Konsetrasi
´
Kecepatan
polutan udara
´
Daya racun
polutan
´
Berat jenis
´
Rekativitas
´
Kondisi
lingkungan
Peralatan
yang umum digunakan dalam pengolahan limbah gas dan partikulat adalah Scrubber.
Scrubber memiliki prinsip kerja dengan bercampunya air dengan uap/gas dalam
suatu wadah, umumnya arah aliran berlawanan agar kontak antara uap dan air
dapat berlangsung sempurna.
Daftar Pustaka :
Arafa, Bima. 2013. Metode Pengolahan Limbah Cair.
Jakarta
Arsyi. 2012. Pengolahan Limbah Industri. https://duniawarnaku.wordpress.com/2012/10/01/pengolahan-limbah/.
1 Oktober 2012.
Jujubandung. 2012. Pengolahan limbah padat. https://jujubandung.wordpress.com/2012/08/20/pengolahan-limbah-padat/.
20 Agustus 2012
Pranowo, Galuh. 2009. Makalah Tentang Limbah Padat.
Yogyakarta : Institut Sains & Teknologi Akprind.


























Comments
Post a Comment