STRATEGI PENGURANGAN DAMPAK LINGKUNGAN ( LIMBAH PADAT , CAIR , GAS )

1.    Limbah Industri
           
         Limbah merupakan buangan atau sisa dari suatu usaha atau kegiatan manusia dan tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah Industri merupakan buangan hasil proses industri. Limbah industri diklasfikasikan menjadi 3 yaitu :
  •         Industri Primer : Industri yang mengubah bahan mentah menjadi setengah jadi, misalnya: pertanian, pertambangan
  •         Industri Sekunder : Industri yang memproses barang setengah jadi menjadi barang jad
  •      Industri Tersier : Industri yang sebgian besat meliputi industri jasa dan perdagangan atau industri yang mengolah bahan industri sekunder.
Limbah yang mengandung bahan polutan yang memiliki sifat racun dan berbahaya dikenal dengan limbah B3. Bahan bahan berbahaya dalam limbah berasal dari industri kimia organik maupun anorganik, proses kimia fisika biologi dalam sistem pabrik, serta  B3 seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. 

Bagan sistimatika identifikasi pencemar pada pabrik.



     Sifat toksisitas dan kualitas limbah industri.

Sifat beracun dan berbahaya limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dan sifat kimia bahan, baik segi kuantitas maupun kualitasnya. Kualitas limbah menunjukkan spesifikasi limbah yang diukur dari kandungan pencemarnya. Limbah yang dihasilkan dari proses kegiatan manusia berbeda satu dengan yang lain, masing-masing memiliki karakteristik tersendiri pula. Karakteristik ini diketahui berdasarkan parameternya.
Apabila limbah masuk ke dalam lingkungan, ada beberapa kemungkinan yang ditimbulkan. Kemungkinan pertama, lingkungan tidak mendapat pengaruh yang berarti; kedua, ada pengaruh perubahan tapi tidak menyebabkan pencemaran; ketiga, memberi perubahan dan menimbulkan pencemaran. Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah antara lain :

1.   Volume limbah, banyak sedikitnya limbah memengaruhi kualitas limbah. Jika limbah di lingkungan terdapat dalam jumlah banyak, limbah tersebut berbahaya. Akan tetapi, jika jumlahnya sedikit maka limbah tidak akan membahayakan. 
2.      Kandungan bahan pencemar, kualitas limbah dipengaruhi oleh kandungan bahan pencemar. Limbah dikategorikan berbahaya jika mengandung pencemar berbahaya contoh logam berat. Jika limbah tidak mengandung bahan pencemar berbahaya, berarti limbah tersebut tidak membahayakan.
3.      Frekuensi pembuangan limbah, pembuangan limbah dengan frekuensi yang tinggi akan menimbulkan masalah. Jika pembuanganlimbah dilakukan dengan frekuensi yang rendah maka limbah tidak akan membahayakan.

Kriteria Limbah B3

           Kata B3 merupakan akronim dari bahan beracun dan berbahaya. Oleh karena itu, pengertian limbah B3 dapat diartikan sebagai suatu buangan atau limbah yang sifat dan konsentrasinya mengandung zat yang beracun dan berbahaya sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, dan mengancam kelangsungan hidup manusia serta organisme lainya.Fungsi Nilai Ambang Batas



      Limbah B3 bukan hanya dapat dihasilkan dari kegiatan industri. Kegiatan rumah tangga juga menghasilkan beberapa limbah jenis ini. Beberapa contoh limbah B3 yang dihasilkan rumah tangga domestik) di antaranya bekas pengharum ruangan, pemutih pakaian, deterjen pakaian, pembersih kamar mandi, pembesih kaca/jendela, pembersih lantai, pengkilat kayu, pembersih oven, pembasmi serangga, lem perekat, hair spray, dan batu baterai.



Jenis Limbah B3

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :
  •     Limbah B3 dari sumber tidak spesifik. Limbah ini tidak berasal dari proses utama, melainkan dari kegiatan pemeliharaan alat, inhibitor korosi, pelarutan kerak, pencucian, pengemasan dan lain-lain.
  •     Limbah B3 dari sumber spesifik. Limbah ini berasal dari proses suatu industri (kegiatan utama).
  •     Limbah B3 dari sumber lain. Limbah ini berasal dari sumber yang tidak diduga, misalnya prodak kedaluwarsa, sisa kemasan, tumpahan, dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.

    Sifat dan Klasifikasi Limbah B3

 

Suatu limbah tergolong sebagai bahan berbahaya dan beracun jika ia memiliki sifat-sifat tertentu, di antaranya mudah meledak, mudah teroksidasi, mudah menyala, mengandung racun, bersifat korosifmenyebabkan iritasi, atau menimbulkan gejala-gejala kesehatan seperti karsinogenik, mutagenik, dan lain sebagainya.

a. Mudah meledak (explosive)
Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar dapat meledak karena dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi lewat reaksi fisika atau kimia sederhana. Limbah ini sangat berbahaya baik saat penanganannya, pengangkutan, hingga pembuangannya karena bisa menyebabkan ledakan besar tanpa diduga-duga. Adapun contoh limbah B3 dengan sifat mudah meledak misalnya limbah bahan eksplosif dan limbah laboratorium seperti asam prikat.

b. Pengoksidasi (oxidizing)
Limbah pengoksidasi adalah limbah yang dapat melepaskan panas karena teroksidasi sehingga menimbulkan api saat bereaksi dengan bahan lainnya. Limbah ini jika tidak ditangani dengan serius dapat menyebabkan kebakaran besar pada ekosistem. Contoh limbah b3 dengan sifat pengoksidasi misalnya kaporit.

c. Mudah menyala (flammable)
Limbah yang memiliki sifat mudah sekali menyala adalah limbah yang dapat terbakar karena kontak dengan udara, nyala api, air, atau bahan lainnya meski dalam suhu dan tekanan standar. Contoh limbah B3 yang mudah menyala misalnya pelarut benzena, pelarut toluena atau pelarut aseton yang berasal dari industri cat, tinta, pembersihan logam, dan laboratorium kimia.

e. Beracun (moderately toxic)
Limbah beracun adalah limbah yang memiliki atau mengandung zat yang bersifat racun bagi manusia atau hewan, sehingga menyebabkan keracunan, sakit, atau kematian baik melalui kontak pernafasan, kulit, maupun mulut. Contoh limbah b3 ini adalah limbah pertanian seperti buangan pestisida.

f. Berbahaya (harmful)
Limbah berbahaya adalah limbah yang baik dalam fase padat, cair maupun gas yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu melalui kontak intalasi ataupun oral.

g. Korosif (corrosive)
Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang memiliki ciri dapat menyebabkan iritasi pada kulit, menyebabkan pengkaratan pada baja, mempunyai pH ≥ 2 (bila bersifat asam) dan pH ≥ 12,5 (bila bersifat basa). Contoh limbah B3 dengan ciri korosif misalnya, sisa asam sulfat yang digunakan dalam industri baja, limbah asam dari baterai dan accu, serta limbah pembersih sodium hidroksida pada industri logam.

h. Bersifat iritasi (irritant)
Limbah yang dapat menyebabkan iritasi adalah limbah yang menimbulkan sensitasi pada kulit, peradangan, maupun menyebabkan iritasi pernapasan, pusing, dan mengantuk bila terhirup. Contoh limbah ini adalah asam formiat yang dihasilkan dari industri karet.

i. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)
Limbah dengan karakteristik ini adalah limbah yang dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan ekosistem, misalnya limbah CFC atau Chlorofluorocarbon yang dihasilkan dari mesin pendingin

j. Karsinogenik (carcinogenic), Teratogenik (teratogenic), Mutagenik (mutagenic)
Limbah karsinogenik adalah limbah yang dapat menyebabkan timbulnya sel kanker, teratogenik adalah limbah yang mempengaruhi pembentukan embrio, sedangkan limbah mutagenik adalah limbah yang dapat menyebabkan perubahan kromosom.
Nilai Ambang Batas 

    
Nilai Ambang Batas adalah batas maksimum perasaan aman manusia berada ditempat kerjanya, meskipun banyak hal terjadi. Nilai ambang batas juga dapat diidentikkan dengan kadar maksimum yang diperkenankan

KATEGORI NILAI AMBANG BATAS (NAB) :

1. NAB rata-rata selama jam kerja, yaitu kadar bahan-bahan kimia rata-rata di lingkungan kerja selama 8 jam per hari atau 40 per minggu dimana hamper semua tenaga kerjadapat terpajan berulang-ulang, sehari-hari dalam melakukan pekerjaannya, tanpa mengakibatkan gangguan kesehatan maupun penyakit akibat kerja. Dalam Daftar Nilai Ambang Batas disingkat NAB
2. NAB batas pemaparan singkat, yaitu kadar tertentu bahan-bahan kimia di udara lingkungan kerja dimana hampir semua tenaga kerja dapat terpajan secara terus menerus dalam waktu yang singkat, yaitu tidak lebih dari 15 menit dan tidak lebih dari 4 kali pemajanan per hari kerja, tanpa menderita atau mengalami gangguan iritasi,kerusakan, atau perubahan jaringan yang kronis secara efek narcosis. Dalam daftar disingkat dengan PSD atau Pemajanan Singkat yang Diperkenankan.
3. NAB tertinggi, yaitu kadar tertinggi bahan-bahan kima di udara lingkungan kerja setiap saat yang tidak boleh dilewati selama melakukan pekerjaan. Dalam daftar disingkat dengan KTD atau Kadar Tertinggi yang Diperkenankan.

KEGUNAAN/FUNGSI NILAI AMBANG BATAS:

1. Sebagai kadar standar untuk pertandingan
2. Sebagai pedoman untuk perencanaan proses produksi dan perencanaan teknologi pengendalian bahaya-bahaya di lingkungan kerja.
3. Menentukan subtitusi bahan proses produksi terhadap bahan yang lebih beracun dengan bahan yang kurang beracun.
4. Membantu menentukan diagnosis gangguan kesehatan, timbulnya penyakit dan hambatan-hambatan efisiensi kerja akibat factor kimiawi dengan bantuan pemeriksaan biologic.



2.      Klasifikasi Limbah Industri
Limbah Industri diklasifikasikan berdasarkan nilai ekonomis dan karakteristik. Berdasarkan nilai ekonomisnya limbah pabrik dibagi menjadi 2 kelompok yaitu Ekonomis dan Non Ekonomis. Berdasarkan karakteristiknya limbah pabrik dibagi menjadi 3 kelompok yaitu Limbah Cair, Limbah Gas, dan Limbah Padat. 




  •    Limbah Cair
Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air dalam sistem prosesnya seperti air ikutan dalam proses pengolahan kemudian dibuang, air yang digunakan saat mencuci bahan baku, air yang ditambahkan zat kimia tertentu dan setelah itu dibuang, atau air yang digunakan untuk mendinginkan mesin dan selanjutnya dibuang.
Jenis industri menghasilkan limbah cair di antaranya adalah industri-industri pulp dan rayon, pengolahan crumb rubber, minyak kelapa sawit, baja dan besi, minyak goreng, kertas, tekstil, kaustiksoda, elektroplating, plywood, tepung tapioka, pengalengan, pencelupan dan pewarnaan, daging dan lain-lain.

  •  Limbah Gas
              

Pengertian limbah gas dapat didefinisikan sebagai bahan sisa berbentuk gas yang dihasilkan dari proses pembakaran atau pembusukan suatu bahan. Limbah ini dapat diidentifikasi dari adanya warna udara, bau, atau rasa. Kendati begitu, beberapa gas berbahaya justru tidak menunjukan ciri spesifik, sehingga akan sangat berbahaya bila sampai terhirup masuk ke dalam paru-paru. Nah, berikut ini adalah beberapa contoh limbah gas yang umum terdapat di sekitar lingkungan kita beserta karakteristik dan resiko bahaya yang dapat ditimbulkannya.
Contoh Limbah Gas



1. Karbon Monoksida (CO)

Karbon monoksida adalah contoh limbah gas yang dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna. Bila kita memanaskan mesin kendaraan di dalam ruangan tertutup, maka mobil akan mengeluarkan gas ini dari knalpotnya. Karbon monoksida sendiri adalah gas yang tidak berasa, berbau, dan bahkan tidak berwarna. Kendati begitu, jika kita sampai menghirupnya resiko keracunan bahkan kematian bisa menjadi sangat tinggi.

2. Karbon Dioksida (CO2)

Karbon dioksida adalah contoh limbah gas yang umumnya dihasilkan dari proses pembakaran senyawa karbon. Setiap hari kita menghasilkan gas ini melalui proses pernafasan. Gas karbon dioksida dibutuhkan untuk pertumbuhan beberapa organisme, termasuk tumbuhan, fungi, dan lain sebagainya. Kendati begitu, keberadaan gas ini diudara haruslah berada dalam jumlah seimbang. Bila lebih dari 5000 ppm akan menyebabkan masalah kesehatan pada manusia, sedangkan bila konsentrasi lebih dari 50.000 ppm dapat membahayakan kehidupan hewan. Cerobong asap pada pabrik-pabrik pengolahan dibuat tinggi menjulang supaya karbon dioksida terlepas pada udara di ketinggian yang jauhg dari jangkauan manusia bernapas.

3. Sulfur Dioksida (SO2)

Sulfur dioksida adalah contoh limbah gas yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan yang mengandung sulfur. Pembangkit listrik tenaga uap (batu bara) akan menghasilkan gas ini dalam jumlah banyak. Keberadaan gas sulfur dioksida dalam jumlah berlebih dapat membahayakan kesehatan pernapasan pada hewan dan manusia, selain itu, karena bersifat asam gas ini juga dapat menyebabkan terjadinya korosi terutama iritasi pada kulit.

4. Gas Amonia (NH3)

Gas amoniak adalah contoh limbah gas yang memiliki aroma yang sangat kuat. Gas ini umumnya dihasilkan dari proses penguraian protein yang dilakukan mikroorganisme. Bau busuk dari bangkai, makanan sisa, dan sampah-sampah di sekitar kita adalah disebabkan karena adanya gas amoniak ini. Keberadaannya sendiri sangat mengganggu kenyamanan, sehingga perlu ditangani secara serius.

5. Gas Metan (CH4)

Gas metan adalah gas yang dihasilkan dari proses pembusukan anaerobik beragam bahan organik. Ia dapat terbentuk secara alami akibat gundukan sampah, di daerah rawa, selokan, atau septictank. Selain itu, sektor industri seperti penambangan batu bara, minyak bumi, dan gas alam juga menyumbang terelapasnya contoh limbah gas ini ke udara. Keberadaan gas metan sendiri pada konsentrasi tertentu dapat mengakibatkan masalah serius bagi kehidupan manusia, misalnya menimbulkan mual muntah, keracunan, gagal jantung, hingga kematian. Selain itu, sifatnya yang mudah terbakar dapat menyebabkan terjadinya kebakaran besar dan ledakan yang membahayakan.
  •  Limbah Padat


Limbah padat adalah suatu bahan sisa berupa fase padat yang dihasilkan dari proses produksi maupun konsumsi. Sama seperti jenis limbah lainnya, limbah padat juga dapat menimbulkan dampak serius bila tidak ditangani secara serius, misalnya terjadinya kerusakan permukaan tanah, badan air, penurunan kualitas udara, banjir, atau timbulnya bau busuk akibat dekomposisi limbah padat organik.

Berikut ini telah kami rangkum beberapa contoh limbah padat beserta teknik penanganannya yang efektif.


1. Limbah Plastik

Limbah plastik adalah salah satu contoh limbah padat yang menjadi masalah serius bagi lingkungan. Penggunaan plastik yang tinggi adalah penyebab
utamanya. Selain itu, plastik juga sangat sulit untuk terdekomposisi karena termasuk jenis limbah anorganik. Salah satu teknik dalam penanganan limbah plastik adalah dengan daur ulang (recycle) dan penggunaan kembali (reuse) dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku kerajinan.

2. Limbah Kertas

Kendati dampaknya tidak seserius limbah plastik, limbah kertas juga perlu diwaspadai sebagai salah satu bahan pencemar lingkungan. Terlebih kertas
bekas yang mengandung banyak timbal dari tinta yang telah digunakan untuk menggoresnya. Limbah kertas dapat didaur ulang dengan mudah menjadi kertas baru, selain itu, ia juga dapat digunakan kembali sebagai bahan baku kerajinan.

3. Limbah Karet

Limbah karet adalah masalah serius. Industri otomotif dan dunia kesehatan adalah penyumbang terbesar limbah ini bagi menurunnya kualitas lingkungan hidup. Penanganan limbah karet, misalnya ban bekas atau dari alat kesehatan kerap tidak mendapatkan perhatian serius. Biasanya mereka hanya ditumpuk atau dibakar. Kedua teknik penanganan ini justru semakin memperbesar kerusakan bumi. bila ditumpuk ia akan mencemari permukaan tanah, dan bila dibakar akan merusak kualitas udara.

4. Limbah Logam

Logam seperti besi, baja, seng, almunium yang telah habis konsumsi juga merupakan contoh limbah padat. kendati begitu, keberadaan limbah ini umumnya tidak menimbulkan masalah serius karena mereka dapat didaur ulang kembali menjadi produk baru yang siap digunakan.

5. Limbah Pertanian

Proses produksi pertanian telah meningalkan banyak limbah yang perlu mendapat perhatian serius. Pupuk dan pestisida yang terbawa ke badan air misalnya dapat membuat masalah baru pada kehidupan organisme sungai. adanya kelebihan unsur Nitrogen di badan air karena akumulasi pemupukan urea telah menyebabkan terjadinya nitrifikasi dan tumbuhnya alga dan eceng gondok secara membeludak. Sementara akumulasi pestisida telah meracuni kehidupan biota laut dan menjadikan ketidakseimbangan rantai makanan karena salah satu unsur dalam rantai tersebut mengalami kelangkaan.

3.      Pengolahan Limbah Industri

Tujuan pengolahan limbah adalah mengambil bahan bahan berbahya didalamnya dan atau mengurangi/ menghilangkan senyawa senyawa kimia maupun non kimia yang berbahaya dan beracun. Jika limbah industry berpotensi mengandung pencemar, maka perlu dlakukan:
Ø  Identifikasi sumber pencemar.
Ø  Fungsi dan jenis bahan.
Ø  Sistem pengolahan.
Ø  Kuantitas dan jenis buangan.
Ø  Fungsi B3 dalam proses.
Ø  Program pengendalian dan penanggulangan pencemar agar tidak mengganggu lingkungan.

1.      Mekanisme Pengolahan Limbah Padat

Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dibagi menjadi 2 cara, yaitu: Limbah padat tanpa pengolahan dan limbah padat dengan pengolahan
·  Limbah padat tanpa pengolahan:
Limbah padat yang tidak mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya, bisa langsung dibuang ke tempat tertentu seperti TPA.
·  Limbah padat dengan pengolahan:
Limbah padat yang mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya, harus diolah dahulu sebelum dibuang ke tempat tertentu.

Faktor-Faktor Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengolah Limbah Padat
1. Jumlah limbah
·         sedikit: mudah ditangani sendiri
·         banyak: membutuhkan penanganan khusus (tempat dan sarana pembuangan)

2. Sifat fisik dan kimia limbah
·         Sifat fisik: mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana pengangkutan dan pilihan pengolahan.
·         Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari lingkungan dengan   cara membentuk senyawa baru.
3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan
Karena lingkungan ada yang peka/tidak peka terhadap pencemaran, maka perlu diperhatikan:
·         Tempat pembuangan akhir (TPA)
·         Unsur yang akan terkena
·         Tingakat pencemaran yang akan timbul

1.      Tujuan akhir dari pengolahan
Tujuan pengelolaan yang bersifat ekonomis:  Meningkatkan efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih berguna untuk didaur ulang/dimanfaatkan lain. Tujuan pengelolaan yang bersifat non-ekonomis: Untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Proses Pengolahan Limbah Padat

·         Pemisahan
·         Penyusutan ukuran
·         Pengomposan
·         Pembuangan limbah
1.      Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari: ukuran yang berbeda dan kandungan bahan yang berbeda maka harus dipisahkan dahulu, supaya peralatan pengolahan menjadi awet. Pemisahan ada 3 sistem, yaitu:
·         Sistem balistik: adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman ukuran/berat volume
·         Sistem gravitasi: adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat. Misal : barang yang ringan/terapung dan barang yang berat/tenggelam
·         Sistem magnetis: adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet, yang bersifat magnet akan langsung menempel. Misal: untuk memisahkan campuran logam dan non logam

2.      Penyusutan Ukuran
Penyusutan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil, supaya pengolahannya menjadi mudah.

3.      Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan/ limbah yang mudah membusuk, sampah kota buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik. Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan disamakan ukurannya/volumenya.

4. Pembuangan limbah
a. Pembuangan di laut

Pembuangan limbah padat di laut tidak boleh dilakukan di sembarang tempat dan perlu diingat bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke laut. Hal ini disebabkan:
·         Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan
·         Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu-lintas kapal
·         Laut menjadi dangkal
·         Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya (misal: limbah B3 /limbah radioaktif), dapat membunuh biota laut

b. Pembuangan di darat/di tanah

Untuk pembuangan di darat, perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus dipertimbangkan sebagai berikut:
·         Pengaruh iklim, temperatur dan angin
·         Struktur tanah
·         Jaraknya harus jauh dengan pemukiman
·         Pengaruh terhadap sumber air, perkebunan, perikanan peternakan, flora atau fauna.
Jadi: Pilih lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk kepentingan apapun
Pembuangan di darat/tanah dibagi:
·         Penebaran di atas tanah
·         Penimbunan/penumpukan
·         Pengisian tanah yang cekung (landfill)
2. Mekanisme Pengolahan Limbah Cair
 











Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan: Pengolahan secara fisika, Pengolahan secara kimia, Pengolahan secara biologi.

Pengolahan Secara Fisika

Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.


Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).
Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa.
Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut.
Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

Pengolahan Secara Kimia

Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.


Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5).

Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl), 2kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida.

Pengolahan secara biologi

Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.

Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1.      Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
2.      Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).
Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.
Kolam oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.
Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain:
1.      trickling filter
2.      cakram biologi
3.      filter terendam
4.      reaktor fludisasi
Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%. Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1.      Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
2.      Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.
Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses anaerob menjadi lebih ekonomis.
Dalam prakteknya saat ini, teknologi pengolahan limbah cair mungkin tidak lagi sesederhana seperti dalam uraian di atas. Namun pada prinsipnya, semua limbah yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi, dimana uraian di atas dapat dijadikan sebagai acuan.

 3. Mekanisme Pengolahan Limbah Gas

Menggunakan metode Ppnyederhaan gas buang dengan metode absorbs,pembakaran, penyerapan ion, kolam netralisasi dan pembersihan partikel. Faktor yang berpengaruh dalam pengolahan limbah gas, antara lain :
´  Jenis bahan tercemar
´  Komposisi
´  Konsetrasi
´  Kecepatan polutan udara
´  Daya racun polutan
´  Berat jenis
´  Rekativitas
´  Kondisi lingkungan

Peralatan yang umum digunakan dalam pengolahan limbah gas dan partikulat adalah Scrubber. Scrubber memiliki prinsip kerja dengan bercampunya air dengan uap/gas dalam suatu wadah, umumnya arah aliran berlawanan agar kontak antara uap dan air dapat berlangsung sempurna. 



Daftar Pustaka :
Arafa, Bima. 2013. Metode Pengolahan Limbah Cair. Jakarta
Arsyi. 2012. Pengolahan Limbah Industri. https://duniawarnaku.wordpress.com/2012/10/01/pengolahan-limbah/. 1 Oktober 2012.
Jujubandung. 2012. Pengolahan limbah padat. https://jujubandung.wordpress.com/2012/08/20/pengolahan-limbah-padat/. 20 Agustus 2012

Pranowo, Galuh. 2009. Makalah Tentang Limbah Padat. Yogyakarta : Institut Sains & Teknologi Akprind.

Comments

Popular posts from this blog

PENCEMARAN AIR : ( Penyebab, Dampak, Penanganan )

ENVIRONMENT MANAGEMENT SYSTEM ( EMS ) { ISO 14000,14001,14010,14020-14024,14041-14044 }